Kamis, 07 Juli 2011

Misteri Merah Planet Mars


Mars tidak selalu merah.


Setidaknya itu adalah teori seorang ilmuwan yang telah menemukan alasan bagaimana planet Mars membentuk warna merah.

Menurut Dr. John Brandenberg, sekitar 180 juta tahun lalu, sebuah planet hancur akibat reaksi nuklir yang terjadi secara alami dan telah melenyapkan apapun di Mars, melepas guncangan gelombang, sehingga mengubah planet tersebut menjadi pasir kering.

Ia mengatakan kepada Fox News, “Permukaan Mars ditutupi lapisan tipis sejumlah bahan radioaktif seperti uranium, torium dan potasium—dan pola ini memancar dari sebuah titik-panas di Mars.”

“Sebuah ledakan nuklir kemungkinan telah mengirimkan puing sisa-sisa reruntuhan ke seluruh planet ini.”

“Peta sinar gamma pada Mars menunjukkan sebuah titik merah besar yang nampak seperti sebuah pola pancaran puing reruntuhan...dan pada sisi berlawanan dari planet itu terdapat pula titik merah yang lain.”

Seperti dilansir Daily Mail, Dr. Brandenburg, ilmuwan senior pada Orbital Technologies Corp mengatakan ledakan alami--yang setara dengan satu juta bom hidrogen satumega ton ini—terjadi di wilayah utara Acidalium Mare dari Mars dimana di tempat itu merupakan konsentrasi berat radioaktivitas.

Ledakan ini juga memenuhi atmosfir Mars dengan radio-isotop, yang mana dapat dilihat dalam beberapa data spektometri sinar gamma yang diambil oleh NASA, ujarnya.

Radioaktivitas juga menjelaskan mengapa planet ini nampak merah.

Dr. Brandenburg yakin bahwa reaksi nuklir alami dapat pula terjadi pada pkanet kita ini—dan bisa terjadi berulang-ulang.

Dr. David Beaty, manager program ilmu pengetahuan Mars, pada NASA’s Jet Propulsion Laboratory, mengatakan kepada FoxNews,com bahwa ia tertarik dengan ide menarik dan menantang tersebut.

Namun ia mengatakan, untuk membuktikan secara ilmu pengetahuan, lembaga itu membutuhkan sebuah perencanaan sebuah misi guna mengekslorasi Mare Acidalium di Mars.

Mars

Mars adalah planet terdekat keempat dari Matahari. Namanya diambil dari nama Dewa perang Romawi. Namun planet ini juga dikenal sebagai planet merah karena penampakannya yang kemerah-merahan.

Lingkungan Mars lebih bersahabat bagi kehidupan dibandingkan keadaan Planet Venus. Namun begitu, keadaannya tidak cukup ideal untuk manusia. Suhu udara yang cukup rendah dan tekanan udara yang rendah, ditambah dengan komposisi udara yang sebagian besar karbondioksida, menyebabkan manusia harus menggunakan alat bantu pernapasan jika ingin tinggal di sana. Misi-misi ke planet merah ini, sampai penghujung abad ke-20, belum menemukan jejak kehidupan di sana, meskipun yang amat sederhana.

Planet ini memiliki 2 buah satelit, yaitu Phobos dan Deimos. Planet ini mengorbit selama 687 hari dalam mengelilingi matahari. Planet ini juga berotasi. Kala rotasinya 25,62 jam.

Dalam mitologi Yunani, Mars identik dengan dewa perang, yaitu Aries, putra dari Zeus dan Hera.

Di planet Mars, terdapat sebuah fitur unik di daerah Cydonia Mensae. Fitur ini merupakan sebuah perbukitan yang bila dilihat dari atas nampak sebagai sebuah wajah manusia. Banyak orang yang menganggapnya sebagai sebuah bukti dari peradaban yang telah lama musnah di Mars, walaupun di masa kini, telah terbukti bahwa fitur tersebut hanyalah sebuah kenampakan alam biasa.

Ciri fisik

Mars memunyai sekitar setengah jari-jari Bumi. Planet ini kurang padat bila dibandingkan dengan Bumi, dan hanya memunyai sekitar 15% volume dan 11% massa Bumi. Luas permukaannya lebih kecil dari jumlah wilayah kering di Bumi.[5] Mars lebih besar daripada Merkurius, tetapi Merkurius lebih padat. Akibatnya kedua planet memunyai tarikan gravitasi yang hampir mirip di permukaan—dan tarikan Mars lebih kuat sekitar kurang dari 1%. Ukuran, massa, dan gravitasi permukaan Mars merupakan "pertengahan" antara Bumi dan Bulan (diameter Bulan hanya setengah dari Mars, sementara Bumi dua kalinya; Bumi sembilan kali lebih besar dari Mars, dan Bulan satu per sembilannya). Kenampakan permukaan Mars yang merah-jingga diakibatkan oleh keberadaan besi (III) oksida, yang lebih dikenal dengan nama hematite

Geologi
Berdasarkan pengamatan orbit dan pemeriksaan terhadap kumpulan meteorit Mars, permukaan Mars terdiri dari basalt. Beberapa bukti menunjukkan bahwa sebagian permukaan Mars memunyai silika yang lebih kaya daripada basalt biasa, dan mungkin mirip dengan batu-batu andesitik di Bumi. Sebagian besar permukaan Mars dilapisi oleh debu besi (III) oksida yang memberinya kenampakan merah.

Saat ini Mars tidak memunyai medan magnet global, namun hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebagian kerak planet termagnetisasi, dan medan magnet global pernah ada di masa lalu.

Selasa, 05 Juli 2011

Mengenal Venus

Venus adalah planet terdekat kedua dari matahari setelah Merkurius. Planet ini memiliki radius 6.052 km dan mengelilingi matahari dalam waktu 225 hari. Atmosfer Venus mengandung 97% karbondioksida (CO2) dan 3% nitrogen, sehingga hampir tidak mungkin terdapat kehidupan.
Arah rotasi Venus berlawanan dengan arah rotasi planet-planet lain. Selain itu, jangka waktu rotasi Venus lebih lama daripada jangka waktu revolusinya dalam mengelilingi matahari.
Kandungan atmosfernya yang pekat dengan CO2 menyebabkan suhu permukaannya sangat tinggi akibat efek rumah kaca. Atmosfer Venus tebal dan selalu diselubungi oleh awan. Pakar astrobiologi berspekulasi bahwa pada lapisan awan Venus termobakteri tertentu masih dapat melangsungkan kehidupan.

Nama alternatif Zohrah, bintang kejora, bintang timur, bintang barat Adjektif Venusian atau (jarang dipakai) Cytherean, Venerean

Ciri-ciri orbit
Epos J2000 Aphelion 108.942.109 km / 0,728 231 28 SA
Perihelion 107.476.259 km / 0,718 432 70 SA
Sumbu semi-mayor 108.208.930 km / 0,723 332 SA
Eksentrisitas 0,006 8 Periode orbit 224,700 69 hari / 0,615 197 0
tahun Periode sinodis 583,92 hari
Kecepatan orbit rata-rata 35,02 km/s

Inklinasi
3,394 71° ke Ekliptika
3,86° ke ekuator matahari
2,19° ke bidang variabel
Bujur node menaik 76,670 69°
Argumen perihelion 54,852 29°

Ciri-ciri fisik
Jari-jari rata-rata 6.051,8 ± 1,0 km / 0.949 9 Bumi,
Kepepatan < 0,000 2, Luas permukaan 4,60×108 km² / 0.902 Bumi, Volume 9,38×1011 km³ / 0.857 Bumi, Massa 4,868 5×1024 kg / 0.815 Bumi, Kepadatan rata-rata 5,204 g/cm³, Gravitasi permukaan di khatulistiwa 8,87 m/s2 / 0,904 g, Kecepatan lepas 10,46 km/s, Hari sideris 243,018 5 hari, Kecepatan rotasi 6,52 km/j, Kemiringan sumbu 177,3°, Asensio rekta bagi kutub utara 18 j 11 min 2 d 272,76°, Deklinasi 67.16°, Albedo 0,65, Suhu permukaan 735 K 461,85 °C, Magnitudo tampak hingga -4,6 (sabit) -3,8 (penuh), Ukuran sudut 9,7" — 66,0", Atmosfer
Tekanan permukaan 9,3 MPa

Komposisi
~96,5% Karbon dioksida
~3,5% Nitrogen
0,015% Belerang dioksida
0,007% Argon
0,002% Uap air
0,001 7% Karbon monoksida
0,001 2% Helium
0,000 7% Neon
jejak Karbonil sulfida
jejak Hidrogen klorida
jejak Hidrogen fluorida

Pekan Lalu Suhu Bumi 48 Derajat Celsius

Suhu tertinggi Bumi pekan lalu terjadi di Mekkah. Sebagai gambaran, suhu rata-rata bulan Mei mencapai 34,4 derajat Celsius. Adapun bulan Juni di kisaran 36,2 derajat

United Nations World Meteorological Organization (UNWMO), lembaga khusus PBB yang bertugas untuk memantau cuaca dan iklim, melaporkan pada pekan lalu suhu terpanas di Bumi sempat mencapai 118,4 derajat Fahrenheit atau 48 derajat Celsius.

Adapun di kawasan terdingin, suhu juga mencapai 118,4 derajat Fahrenheit di bawah nol, atau sekitar minus 76,1 derajat Celsius.

Sebagai informasi, UNWMO, yang membuat standarisasi untuk pemantauan cuaca dan menyediakan jaringan telekomunikasi global untuk distribusi data, mengumpulkan data lebih dari 10 ribu stasiun pengamat cuaca di seluruh dunia.

Dikutip dari Earth Week, 4 Juli 2011, temperatur tertinggi terjadi di Mekkah, Arab Saudi. Adapun suhu terdingin yang tercatat, terjadi di kawasan stasiun penelitian Vostok Antarctic milik Russia di Kutub Selatan.

Meski suhu di kedua tempat tersebut tercatat cukup ekstrim, suhu terpanas dan terdingin tersebut belum memecahkan rekor temperatur tertinggi dan terendah sebelumnya.

Menurut data yang dirilis oleh World Meteorological Organization dan dirangkum oleh Arizona State University, suhu terpanas yang pernah terjadi di Bumi adalah pada 13 September 1922 di El Azizia, Libya. Ketika itu suhu di kawasan yang berada pada ketinggain 112 meter di atas permukaan laut itu tercatat mencapai 136 derajat fahrenheit atau 57,8 derajat celcius.

Suhu terdingin yang pernah melanda kawasan di Bumi sendiri terjadi pada 21 Juli 1983 di kawasan Vostok, Antartika. Suhu kawasan yang berada di ketinggian 3420 meter di atas permukaan laut itu sempat mencapai minus 128,5 derajat fahrenheit atau minus 89,2 derajat celcius.

Di Mekkah sendiri, menurut catatan National Climatic Data Center, pada bulan Juni lalu, suhu rata-ratanya mencapai sekitar 36,2 derajat Celsius. Adapun pada bulan Mei, suhu rata-rata Mekkah ada di kisaran 34,4 derajat Celsius

Senin, 04 Juli 2011

Nasib Astronot NASA Tanpa Pesawat Ulang Alik

Menyusul pensiunnya para astronot AS, pesawat ulang alik Space Shuttle Atlantis juga akan dilengserkan Juli ini. Artinya, NASA tak akan punya kendaraan lagi ke luar angkasa.Space Shuttle Atlantis adalah pengorbit terakhir Space Shuttle aktif dalam armada pesawat ulang-alik milik National Aeronautics and Space Administration (NASA), spaceflight dan badan eksplorasi antariksa AS. Sebagai Space Shuttle operasional keempat dan terakhir yang dibangun perusahaan Rockwell International di California Selatan pada April 1985, Atlantis sudah tidak bisa digunakan lagi karena memasuki masa pensiun.
Misi terakhirnya adalah STS-135, penerbangan terakhir sebelum program Shuttle berakhir. Penerbangan akhir ini disahkan oleh Presiden pada Oktober 2010, untuk membawa pasokan tambahan ke ISS dan mengambil beberapa hal dari sebuah proses untuk misi Launch on Need, yang hanya akan diterbangkan bila awak Endeavour membutuhkan penyelamatan.
Sebagai penggantinya, AS sedang membangun pesawat luar angkasa untuk perjalanan manusia, yang saat ini baru mencapai titik render artisnya. ‘Kendaraan kru multi tujuan’ ini disebut-sebut cocok digunakan mengunjungi asteroid pada 2025 ini .
Namun, untuk tetap menjalankan aktivitas di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), astronot AS akan menumpang pada pesawat kapsul ruang angkasa Rusia, Soyuz. NASA sendiri membayar agensi luar angkasa Rusia untuk mendapat kursi di Soyuz. Selama beberapa tahun, kapsul Soyuz bertanggung jawab membawa dan mengembalikan awak ISS.
ISS, stasiun ruang angkasa yang sebenarnya laboratorium yang mengorbit, terus menjadi rumah enam awak dari salah satu negara yang memiliki program luar angkasa. Masa tugas mereka disana yakni enam bulan. Tiap tiga awak akan menggantikan awak lainnya per tiga bulan.
Selain membawa awak, Soyuz selama ini juga telah melayani lebih dari sekadar menjadi truk pengiriman. “Ada misi berawak ke ISS untuk mengirim pasokan dan kargo. Namun, pesawat itu bukanlah untuk tinggal, “ ujar humas NASA untuk operasi ruang angkasa Joshua Buck.
Awak ISS di masa depan juga akan berlatih bersama di Johnson Space Center di Houston, seperti yang pernah dilakukan sebelumnya. Kemudian, mereka menyelesaikan pelatihan di Rusia sebelum meluncur bersama Soyuz dari Kazakhstan di Asia Tengah.
Buck menuturkan, pergeseran untuk penerbangan Soyuz ini sebenarnya bukanlah perombakan besar bagi astronot AS. “Astronot NASA dan Eropa serta Jepang telah terbang ke ISS menaiki Soyuz selama beberapa tahun,” katanya.
Kerjasama antara badan luar angkasa AS dan Rusia juga sudah terjalin sejak lama. Pada Juli 1975 misalnya, pesawat ulang alik Apollo dan sistem peluncur Soyuz berangkat bersama ke luar angkasa. Soyuz bertugas mengambil gambar, sedangkan Apollo mengorbit.
Selain itu, AS-Rusia juga sempat bekerja sama dalam Shuttle Mir Program, yakni program kolaborasi yang melibatkan pesawat ulang alik AS berkunjung ke MIR Rusia. Di sini, astronot Rusia naik di shuttle AS, sebaliknya, astronot AS naik di Soyuz. Tujuannya adalah agar astronot AS belajar pengalaman ruang angkasa Rusia.
Adapun terkait pengurangan jumlah astronot NASA yang diperlukan untuk perjalanan antariksa, humas Johnson Space Center Nicole Cloutier-Lemasters mengatakan, astronot tambahan yang sebelumnya telah berlatih di misi pasokan ISS akan mengambil peran lain berbasis darat seperti membantu penelitian dan desain kendaraan NASA masa depan .
“Karena ada semacam waktu penting untuk misi masa depan, ada banyak terobosan dan ada banyak hal yang harus dilakukan selama pekerjaan awal,” kata Cloutier-Lemasters. Jadi, beberapa astronot kami akan mendukung awak di kantor, meninjau desain seperti desain panel instrumen, dan memberi umpan balik, lanjutnya.
Penugasan lain dari astronot adalah, “Dipindah ke posisi lain di badan itu,” tutupnya.